Mulai Populer, Bitcoin Jadi Modus Baru Investasi Bodong

Mulai Populer, Bitcoin Jadi Modus Baru Investasi Bodong

Masih rendahnya tingkat literasi keuangan masyarakat membuat praktik investasi bodong terus tumbuh. Hal itu mendorong Ototitas Jasa Keuangan (OJK) membentuk Satgas Waspada Investasi.

Tim yang terdiri dari perwakilan 7 kementerian dan lembaga, sudah berjalan sejak 2007. Sudah cukup banyak entitas investasi bodong yang telah diberantas, tahun ini saja sudah ada 62 entitas yang diberangus.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L. Tobing mengatakan, seiring berjalannya waktu modus investasi bodong terus berkembang. Meskipun secara indikasi yang menjadi ciri investasi bodong masih tetap sama yakni tak berizin dan menawarkan imbal hasil yang tidak masuk akal.

“Investasi bodong memang banyak modusnya sejak dulu. Ada emas, pertambangan, perdagangan forex, berjangka sampai koperasi yang semuanya tanpa izin,” tuturnya saat dihubungi detikFinance, Selasa (24/10/2017).

Sementara belakangan ini marak timbul modus penipuan investasi baru, yakni menawarkan investasi di mata uang advanced Bitcoin. Dari 14 entitas yang dihentikan bulan ini saja ada 4 entitas yang menggunakan digital currency yang menjadi produk investasinya.

Menurut Tongam, mulai maraknya modus penipuan tersebut lantaran Bitcoin saat ini tengah naik daun, lalu pengetahuan masyarakat atas Bitcoin juga masih rendah. Hal itulah yang dimanfaatkan oleh pelaku investasi bodong.

“Ya kemungkinan orang menangkap seperti itu, karena Bitcoin ramai dibicarakan. Orang menawarkannya dengan janji memberikan bunga tinggi. Padahal Bitcoin di pasarnya sebagai forex berfluktuatif, tapi memberikan imbal hasil besar tanpa risiko. Itu masalahnya,” imbuhnya.

President Bitcoin Indonesia (bitcoin.co.id), Oscar Darmawan mengaku memiliki pandangan yang sama. Menurutnya pelaku penipuan berkedok investasi Bitcoin memanfaatkan popularitas Bitcoin saat ini.

Baca juga: 14 Investasi Bodong Ditutup, Belum Ada Korban Melapor

“Memanfaatkan marking Bitcoin, tujuannya membuat masyarakat salah paham. Perusahaan itu memanfaatkan popularitas Bitcoin,” tuturnya.

Oscar memandang perusahaan-perusahaan tersebut tidak akan mencemarkan nama baik Bitcoin yang tengah naik daun itu. Sebab Bitcoin pada dasarnya adalah mata uang yang bisa dimanfaatkan sebagai alat pembayaran maupun komoditas.

“Bitcoin itu komoditas netral, tergantung mau dipakai buat apa, jadi sudah jelas itu. Seperti investasi bodong pakai Rupiah, apakah Rupiah itu salah? Investasi bodong pakai dolar AS, apakah dolar itu salah? Karena investasi bodong tanpa memandang mata uang yang dipakai,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *